Website Resmi Desa Garon - Kecamatan Kawedanan
Jalan Maduretno, Nomor. 01
📧 desagaron8@gmail.com   |   ☎️ 85232190949   |   🏷️ Kode Pos: 63382
Potensi Desa
23 Januari 2025
UMKM Tempe Godong Bu Winda

"Tempe Godong, Kearifan Lokal yang Menjadi Pilihan Sehat dan Ekonomis"

Ibu waginem merupakan pemilik usaha tempe yang telah di rintis sejak tahun 2019 pada saat Covid-19. Kemampuannya dalam membuat tempe diperoleh secara turun-temurun dari keluarganya. Dalam menjalankan usaha ini, Ibu Waginem memasarkan produknya melalui media sosial, khususnya WhatsApp, serta dengan cara berkeliling desa untuk menawarkan tempe secara langsung kepada masyarakat sekitar.

Proses pembuatan tempe yang dilakukan pada umumnya sama dengan pembuatan tempe tradisional, yaitu yang pertama kedelai direndam dalam air semalaman untuk melunakkannya. Kemudian kedelai direbus hingga matang untuk mematikan bakteri yang tidak diinginkan dan mempermudah proses fermentasi. Setelah direbus, kulit ari kedelai dikupas untuk memudahkan pertumbuhan jamur. Kedelai yang sudah dikupas didinginkan dan kemudian dicampur dengan ragi tempe (jamur Rhizopus). Kedelai yang sudah diberi ragi dibungkus (biasanya dengan daun pisang atau plastik) dan didiamkan pada suhu ruang selama beberapa hari hingga terjadi fermentasi. Namun, terdapat sedikit perbedaan pada cara pengemasan. Ibu Waginem menggunakan daun pisang yang dilapisi kertas sebagai pembungkus, karena metode ini dinilai mampu membuat tempe lebih awet dibandingkan jika dibungkus menggunakan plastik.

Adapun harga yang dipasarkan oleh Ibu Waginem bervariasi sesai dengan ukuran, tetapi dijual dengan harga terjangkau agar dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.

Harga Jual

Rp. 1000/4 pcs

Untuk Pemesanan Hubungi Nomor Berikut:

0812 - 5992 - 837

Alamat : 

Ds. Garon, Dusun Garon Rt 02/Rw 01, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan

Lihat Selengkapnya
12 Agustus 2025
Pura Sanggar Tutur

Di Desa Garon, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan, berdiri sebuah tempat ibadah umat Hindu yang sarat nilai sejarah dan kebersamaan, yaitu Pura Sanggar Tutur. Pura ini menjadi pusat kegiatan keagamaan umat Hindu setempat sekaligus bukti nyata kerukunan antarumat beragama di wilayah Magetan.

Sejarah Renovasi Pada hari Rabu, 18 November 2020, Pura Sanggar Tutur resmi selesai direnovasi dan diresmikan oleh Kepala Staf Angkatan Udara, Marsekal TNI Fadjar Prasetyo, S.E., M.P.P. Renovasi ini merupakan bentuk perhatian dan dukungan terhadap pelestarian tempat ibadah serta sarana untuk memperkuat kehidupan beragama yang harmonis. Peresmian tersebut dilaksanakan dengan penuh khidmat, mengusung rasa syukur atas berkah Tuhan Yang Maha Esa.

Keunikan dan Keindahan Pura Pura Sanggar Tutur memiliki arsitektur khas dengan gerbang utama yang dijaga patung dewa penjaga dan ornamen simbol Om di bagian atas pintu gerbang. Suasana asri dengan pepohonan di sekitar pura menambah ketenangan bagi para jemaat yang datang untuk beribadah.

Makna Kehadiran Pura di Magetan Keberadaan Pura Sanggar Tutur di Desa Garon bukan hanya sebagai tempat peribadatan umat Hindu, tetapi juga sebagai simbol toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Kabupaten Magetan. Warga sekitar turut menjaga dan menghormati keberadaan pura ini, menjadikannya bagian dari identitas desa yang membanggakan.

Pura Sanggar Tutur adalah salah satu bukti nyata bahwa harmoni dapat terjalin dalam keberagaman. Renovasi yang dilakukan tidak hanya memperindah bangunan fisiknya, tetapi juga memperkuat semangat persaudaraan dan toleransi di tengah masyarakat.

 

Lihat Selengkapnya
23 Januari 2025
UMKM Gerabah Bintang Garon

UMKM pembuatan gerabah lemper ini merupakan usaha turun-temurun yang telah diwariskan sejak tahun 1940-an. Awalnya, proses pembuatan gerabah dilakukan secara manual oleh generasi terdahulu, seperti dengan cara diinjak menggunakan kaki. Kini, usaha tersebut dilanjutkan oleh Mbak Elis, generasi penerus keluarga, yang mulai mengadaptasi penggunaan mesin press dan molen untuk menggiling bahan baku. Sekitar lima tahun terakhir, proses produksi mulai beralih ke sistem mesin guna meningkatkan efisiensi.

Bahan utama yang digunakan dalam pembuatan gerabah adalah tanah lempung atau biasa disebut “lemah pulen” oleh masyarakat setempat. Produksi dilakukan secara tidak rutin, menyesuaikan waktu luang pemilik, karena Mbak Elis juga memiliki pekerjaan lain di luar usaha ini. Meskipun demikian, produk gerabah lemper miliknya tetap memiliki banyak pelanggan dari berbagai wilayah seperti Madiun, Magetan, hingga Plaosan dan Ngrambe. Sebagian besar pemesan merupakan pedagang yang menjual kembali gerabah tersebut di pasar.

Dari sekian pelaku usaha gerabah di Desa Garon, hanya produk milik Mbak Elis yang memiliki cap nama langsung pada gerabah, menjadikannya lebih dikenal dan memiliki identitas merek yang kuat. Cap tersebut menjadi penanda keaslian produk sekaligus menunjukkan profesionalitas dalam pengemasan. Selain itu, Mbak Elis dan suaminya juga tercatat sebagai pembuat gerabah paling muda di desa tersebut, menunjukkan semangat regenerasi dalam usaha tradisional yang kian langka.

Produk gerabah yang dihasilkan dikhususkan sebagai cetakan lemper, dengan dua variasi ukuran. Untuk ukuran kecil, harga jual dari rumah adalah Rp2.000 dan dijual kembali di pasar seharga Rp4.000. Sementara ukuran besar dijual dari rumah seharga Rp3.000 dan di pasar mencapai Rp5.000. Produk ini dikenal dengan merek “Lemper Elis & Bintang”. Permintaan pasar cukup tinggi, namun usaha ini masih menghadapi kendala dalam hal tenaga kerja karena keterbatasan jumlah pengrajin.

Proses produksi meliputi penjemuran gerabah selama satu hari penuh di bawah sinar matahari. Jika cuaca mendukung, proses dilanjutkan dengan pembakaran yang biasanya dimulai sekitar pukul 13.00 hingga sore hari. Pembakaran dilakukan menggunakan kayu jati, yang dibeli dalam jumlah besar seharga sekitar Rp500.000 per satu engkel. Metode tradisional ini tetap dipertahankan karena dianggap menghasilkan kualitas pembakaran yang baik dan tahan lama.

Meskipun belum dipasarkan secara digital, produk gerabah lemper ini dikenal luas melalui promosi dari mulut ke mulut. Keunggulan produk dan kelangkaan pengrajin gerabah membuat produk ini semakin dicari. Di tengah berkurangnya jumlah pembuat gerabah, UMKM Lemper Elis tetap bertahan sebagai pelestari tradisi dan pemenuh kebutuhan masyarakat akan perlengkapan dapur tradisional.

 

Harga Jual 

Angklo : Rp 10.000 - Rp. 20.000

Kereng Masak : Rp. 10.000 - Rp. 15.000

Kendil : Rp. 3.000

Kuali : Rp. 10.000 - 15.000

Wajan : Rp. 10.000

Cobek : Rp. 5.000

Maron : 15.000

Layah : Rp. 2.000 - Rp. 6.000

Untuk Pemesanan hubungi:

Mba Elis : 0895 - 4005 - 09875

Lokasi Usaha:

RT 3 RW 1, Dukuh Garon, Desa Garon, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur

Informasi Wawancara:

Tanggal wawancara: 25 Juli 2025

Pewawancara: KPM 98 UIN PONOROGO

Lihat Selengkapnya